Selamat Datang

ahlan wa sahlan :: welcome :: wilkomen :: irasahai mase :: selamat datang ::

Label

Tampilkan postingan dengan label Entrepreneurship. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Entrepreneurship. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 September 2011

T M E




T.M.E





Intisari materi ini diambil dari buku E-Myth, karangan Michael Gerber. Materi dimodivikasi dengan gaya bahasa yang lebih mudah dan sederhana, serta contoh-contoh ala juragan.

Michael Gerber melakukan survei dari 1 juta UKM di US. Berikut datanya...
40% Bisnis jatuh (tutup) di tahun ke 2;
80% jatuh di tahun ke 5;
96% jatuh di tahun ke 10;
Hanya 4% yang mampu bertahan, Kenapa?

Sebelum   menjawab,   mari   kita   kenali   3   elemen   bisnis   dalam   diri   kita:   TEKNISI,   MANAJER, ENTREPRENEUR.

1. TEKNISI (T), "hidup di masa SEKARANG", seperti koki di RM, montir di bengkel, banci di salon. Tanpa T, bisnis tak jalan!

2.  MANAJER  (M),  "hidup  di  masa  LALU",  menganalisa  data-data  atau  laporan,  guna  melakukan efisiensi dan menyelesaikan masalah.

3.  ENTREPRENEUR  (E),  "hidup  di  masa  DEPAN",  melihat  dan  mencari  peluang,  merencanakan, berkreasi, inovasi, pemimpi!

Ketiga elemen itu ada dalam diri kita sebagai seorang pebisnis, hanya saja prosentasinya berbeda- beda. Awal berbisnis, mungkin komposisinya T=70%, M=20%, E=10%. Bacalah kisah berikut ini...




Joko adalah seorang montir. Karena keahliannya memperbaiki motor, Joko membuka bengkel motor JOKO MOTOR. Apa yang terjadi jika Joko tetap mempertahankan komposisi itu? Apalagi NAMA Joko adalah MEREK dari bengkel tersebut.

Awalnya mungkin Joko bangga karena pelanggan sangat (dan hanya) percaya pada Joko. Jika Joko sakit, pelanggan memilih menunggu. Awalnya mungkin Joko enjoy-enjoy saja, namun setelah 1-2 tahun, mulai kejenuhan itu datang. Bengkel itu adalah Joko! Joko sakit, bengkel sakit. Tak selesai disitu, karena terlalu bangga dengan kemampuan teknis, Joko jadi lupa tentang 'servis'. Tempat tak nyaman, layanan buruk.

Mulailah tetangga samping membuka bengkel serupa. Montirnya mungkin tak sehebat Joko, namun saat Joko sakit, saatnya mereka menyusup. Ternyata not bad juga tuh, apalagi servisnya lebih bagus, ruangan aircon, teh atau kopi gratis. Mulailah pelanggan berpaling.

Joko merasa kebakaran jenggot, "Kurang ajar bengkel sebelah, nyerobot pelangganku!". Kafilah tetap berlalu... Sementara Joko masih pede (campur sombong) menepuk dada, "Gak ada montir sebagus gue nih...". Insyaf bro...! Tak berapa lama, bengkel tetangga membuka cabang di tempat lain, lebih besar, lebih nyaman, lebih komplit alat-alatnya! Branding adalah keterlihatan, makin banyak cabang, makin terlihat. Sementara bengkel Joko hanya 1, tetap kumuh dan arogan.  Bengkel Joko tanya ke orang 'pinter', katanya ditutupi 'makhluk halus'. Ehh... percaya juga! Kemenyan dan sesajipun tetap tidak mempan.

1 tahun 9 bulan 10 hari, TUTUP deh! Dasar nasib Teknisi...


Itulah  balada  Teknisi  yang  selalu  menepuk  dada,  tak  mau  mentransformasi dirinya.  Harusnya bagaimana?

Jika Anda mau terhindar dari tragedi teknisi, Anda harus mentransformasi diri Anda dari T ke M dan kemudian ke E!

Tidak ada patokan akurat berapa lama harus bertahan di posisi T sebelum pindah ke posisi M dan E. Tergantung titik awal masing-masing orang. Untuk pemula, usahakan sebelum 2 tahun sudah mulai mengurangi porsi di T dan mulai beralih ke M. Buatlah sistem!

Faktor penghambat seseorang pindah dari T ke M atau E adalah EGO, karena merasa tidak ada sepandai dirinya. "Tak ada yang bisa membuat masakan seperti punyaku". Come on sis, pesawat terbang saja sudah bisa dibuat, apalagi sekedar pindang!
















“kalo gak ada Gue mana bisa jalan”..



T.M.E






“bener bro! Kalo gak ada kamu semua
ga bisa jalan...”










Jika dulu Anda berucap, "Kalo gak ada AKU, gak  jalan"...

Saatnya berucap,"Kalau gak ada KAMU, gak jalan" --> sambil menepuk bahu Teknisi kita. Itulah tahap Manajer

Kalau Entrepreneur? "Aku gak mau tahu, pokoknya harus jalan!" he he he....

Katakanlah di tahun kedua Anda bisa transformasi menjadi 20%T, 50%M, 30%E, itu sudah bagus... Caranya? Mulai ikuti training manajemen, delegasikan pekerjaan teknis kepada bawahan Anda yang teknisi.

Di tahun ke 3, 0%T, 20%M, 80%E, kerja Anda bermain golf, ikut pameran, asosiasi, training, membaca tren melalui majalah, networking.

Sekali lagi, tak ada patokan berapa lama Anda harus melakukan transformasi. Resiko jika Anda terlalu lambat  melakukan  transformasi  adalah  mengalami  kejenuhan  (kehilangan  momentum)  dan  tak dapat melihat peluang.

Bisakah langsung lompat ke E? Bisa saja, beli franchise yang benar-benar memiliki sistem yang sudah stabil atau rekrut orang-orang yang kompeten di bidangnya. Tentu saja semua itu ada harganya.

Sekali lagi, kuncinya ada di EGO dan KESOMBONGAN, termasuk juga KETIDAKPERCAYAAN terhadap orang lain!

Teknisi bangga, bisa menyelesaikan masalah sendiri...
Manajer bangga, bisa menyelesaikan masalah melalui orang lain... Entrepreneur bangga, masalah selesai tanpa ia tahu ada masalah!



Sumber: Mas-J (Jaya Setiabudi)
              Penulis Buku Best Seller The Power of Kepepet
              dalam www.YEA-Indonesia.com



"Salam Sukses Berkelimpahan Berkah"


Leofaragusta
move, action & fight

Selasa, 16 Agustus 2011

5 Tangga Bisnis

Dengan mengetahui 5 tangga bisnis, kita bisa menyusun dan memprioritaskan langkah-langkah strategis dalam mencapai puncak bisnis.

Berikut 5 tangga bisnis:

1. STARTING (Mulai);
2. PROFITING (Mendongkrak keuntungan);
3. SYSTEMIZING(Membangun sistem);
4. MULTIPLYING (Mengembangbiakkan);
5. REAPING FREEDOM (Mencapai Kebebasan).



 1. STARTING
Saat mulai usaha fokus "bagaimana bisa survive" atau sekedar 'dapur ngepul' terlebih dahulu. Jangan berusaha mencari laba besar saat awal, tapi carilah omset. Fokus bagaimana meramaikan 'toko' anda dan mengkonversi sebanyak mungkin calon pelanggan menjadi pelanggan.

Lakukan pemasaran secara agresif dan teragenda. Jangan biarkan seharipun tanpa promosi. Lakukan hal ini terus-menerus sampai 'kursi' (kapasitas) yang anda tawarkan setidaknya mencapai 70% kapasitas. Misal, bisnis rumah makan, minimum 70% bangkunya selalu terisi.

Jika bisnis anda adalah distribusi, bukalah jalur distribusi sebanyak mungkin dan secepat mungkin. Genjot volume penjualan anda bukan profit anda. Asalkan pembayaran bagus, profit rendahpun tidak menjadi masalah.

Jangan terburu-buru membuat sistem secara detail, karena akan menghilangkan fleksibilitas dalam bisnis anda. Biasanya mantan karyawan diperusahaan besar akan fokus membuat sistem dibanding menggenjot penjualan. Ini adalah kesalahan fatal saat awal berbisnis!

“Rebut dan kuasai pasarnya terlebih dahulu, baru maksimumkan marjinnya"



2. PROFITING
Setelah volume penjualan anda cukup besar atau kapasitas yang anda tawarkan sudah maksimum tiap saat, barulah fokus menaikkan keuntungan usaha.

Ada 3 hal yang mampu menaikkan keuntungan usaha dari customer:
a. Menaikkan angka repeat order;
b. Menaikkan rata-rata pembelian tiap kunjungan;
c. Menaikkan marjin.

a. Repeat order adalah segala upaya yang dilakukan untuk membuat pelanggan semakin sering berbelanja ke
    tempat kita.
b. Menaikkan rata-rata pembelian adalah upaya agar pelanggan yang tadinya belanja sebesar Rp.100.000,- 
    tiap kunjungan, meningkat menjadi Rp 200.000,- tiap kunjungan, bahkan lebih.
c. Menaikan marjin adalah upaya menaikkan nilai dan harga jual, serta menekan biaya produksi dengan cara
    menaikan produktifitas dan menekan pengeluaran.

Di tahap profiting, promosi tetap jangan berhenti. Bedanya dengan tahap starting, promosi profiting lebih difokuskan ke pelanggan yang sudah ada.



3. SYSTEMIZING
Setelah 'dapur ngepul' dan profit melimpah, kini saatnya menyempurnakan sistem. Sebenarnya sistem tersebut mungkin sudah dirintis sedikit demi sedikit sejak mulai usaha, hanya saja di tahap systemizing, kita akan fokus pada pembenahan sistem.

Tujuan dari sistem adalah membuat bisnis 'autopilot' atau tetap berjalan tanpa anda dan siap dikembangbiakan (multiplying). Jika profit anda besar, anda tidak perlu pusing untuk membuat sistem sendiri. Cukup membayar konsultan untuk membuat sistem di perusahaan Anda. Yang terpenting lagi, inilah saatnya Anda mencari GM/ direktur yang jauh lebih pandai dan berpengalaman dari Anda.



4. MULTIPYING
Setelah sistem terbentuk perlu dilakukan uji coba dengan cara menduplikasi bisnis yg sudah ada yaitu dengan membuka cabang. Jangan terburu-buru untuk diwaralabakan jika sistem belum teruji. Jika Anda membutuhkan modal untuk usaha, gunakan pilihan untuk menjual sebagian saham cabang utama untuk membangun cabang baru. Uji sistem Anda dengan membuka cabang di beberapa tempat atau kota yang berbeda, sebelum akhirnya bisnis Anda siap diwaralabakan.
Ingat! Niatkan waralaba (franchise) untuk berbagi keuntungan, bukan mencari 'korban'.

”Apa yang Anda tanam adalah apa yang akan Anda tuai”

Selain pilihan waralaba, sistem juga bisa diterapkan untuk mengembangbiakan cabang-cabang usaha anda secara konvensional.




5. REAPING FREEDOM
Kini tiba saatnya memetik apa yang telah anda tanam, yaitu kebebasan financial. Dengan kata lain

“Bisnis anda jalan, anda jalan-jalan...”

Sekarang tiba saatnya meninggalkan 'gading' kepada orang-orang sekitar anda.




Sumber: www.YEA-Indonesia.com


"Salam Sukses Berkelimpahan Berkah"

Leofaragusta
move, action & fight