Selamat Datang

ahlan wa sahlan :: welcome :: wilkomen :: irasahai mase :: selamat datang ::

Jumat, 19 Agustus 2011

Hidup Sehat Seperti Rasulullah


Nabi besar Muhammad SAW selalu menjaga kesehatannya seperti apa? Berikut ini beberapa hal yang selalu dilakukan beliau sehingga selalu sehat jasmani maupun rohani.

  1. Selalu bangun sebelum subuh.
Rosulullah SAW selalu mengajak umatnya untuk bangun sebelum subuh kemudian menunaikan sholat subuh. Pada subuh selalu dilimpahkan pintu oleh Allah sebuah rezeki dan pahala, kesegaran udara pagi bagus untuk kesehatan dan terapi penyakit TB dan memperkuat pikiran dan menyehatkan perasaan.

  1. Aktif menjaga kebersihan.
Rosulullah SAW selalu senantiasa rapi dan bersih, setiap hari kamis dan jum’at beliau selalu mencuci rambut-rambut halus di pipi, selalu memotong kuku, bersisir dan berminyak wangi. Mandi pada hari jum’at adalah wajib bagi setiap orang-orang dewasa (HR Muslim).

  1. Tidak pernah banyak makan.
Tidak makan sebelum lapar dan bila makan tidak terlalu banyak. Dalam tubuh  manusia ada 3 ruang untuk 3 benda, sepertiga untuk udara, sepertiga untuk air, sepertiga lagi untuk makanan sehingga dengan keseimbangan ini membuat tubuh sehat.

  1. Gemar berjalan kaki.
Rasullullah SAW selalu berjalan kaki ke masjid, pasar, mengunjungi sahabat. Dengan berjalan kaki, keringat akan keluar mengalir, pori-pori terbuka dan peredaran darah akan lancar. Kebanyakan dari kita pergi ke masjid berjarak 300 meter selalu mengendarai sepeda motor.

  1. Tidak pernah marah.
Salah satu bentuk nasehat dari Rasulullah Jangan marah, kata-kata ini sampai diucapkan beliau sampai 3 kali. Ini menunjukan hakikat kesehatan dan kekuatan kaum muslim bukan terletak pada badan belaka, tetapi lebih jauh yaitu dilandasi oleh kebersihan dan kesehatan jiwa. Sebuah terapi yang tepat untuk menahan marah. Mengubah posisi ketika marah. Bila berdiri maka anda duduk, bila posisi duduk maka anda berbaringlah. Bila Belum hilang amaranya maka Membaca Taawwudz, karena perbuatan marah itu dari setan laknatullah. Bila belum hilang juga Segerahlah berwudhu. Bila terapi diatas masih membuat amarah anda tinggi maka lakukanlah sholat 2 rokaat untuk meraih ketenangan dan menghilangkan kegundahan hati, Insya Allah amarah tadi akan reda dengan sendirinya.

  1. Optinis dan tidak putus asa.
Sikap optimis akan memberikan kepada kita sebuah dampak psikologis yang mendalam bagi kelapangan jiwa sehingga kita tetap sabar, istiqomah dan bekerja keras serta tawakal kepada Allah SWT.

  1. Tak pernah iri hati.
Untuk menjaga stabilitas dan kesehatan jiwa, mentalitas diri kita maka dipandang sangat perlu untuk menjauhi dari sifat iri hati sebagai sebuah tindakan preventif yang sangat tepat dari diri kita.


Dirangkum dari berbagai sumber
oleh: Ir. Ali Nurdin, MT.


"Salam Sukses Berkelimpahan Berkah"

Leofaragusta
move, action & fight

Kamis, 18 Agustus 2011

Berhentilah Menjadi Gelas


"Berhentilah menjadi gelas... lapangkan hati terhadap cobaan & masalah"

Seorang Guru Sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung. "Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah didunia ini? Kemana perginya wajah bersyukurmu?" sang Guru bertanya.

"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya" jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu". Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit". Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.
 "Asin, dan perutku jadi mual" jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.
"Sekarang kau ikut aku". Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau". Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan gurunya, begitu pikirnya.

"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, sang Guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?"

"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"
 "Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Tuhan, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."

Si murid terdiam, mendengarkan.

"Tapi Nak, rasa `Asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya 'qalbu' (hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu sebesar danau."

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Hikmah yang bisa dipetik, bahwa Tuhan tidak memberi cobaan diluar porsi kita. Kita akan menerima segala cobaan tersebut dengan ikhlas apabila kita berlapang dada. Semoga bermanfaat.........
 -------------------------------------------------------------------------------------------------

Sumber: Surya Radenanto dalam Muhammad Jasrun.
FB SMUN Way Halim/ SMAN 5 Bandar Lampung, 030811, 20:30.

 
"Salam Sukses Berkelimpahan Berkah"

Leofaragusta
move, action & fight


Rabu, 17 Agustus 2011

A Boy and Butterfly

Seperti biasa, setiap hari Sabtu saya selalu mencari cerita-cerita yang bisa memberikan inspirasi kepada kita.  Ini didapat lagi dari BBM Blast kalau ngak salah dari salah satu BBM Group. Dan seperti biasa tulisan ini tidak ketauan darimana asalnya, sehingga sulit untuk memberikan kredit kepada penulisnya. Anyhow berhubung isinya bagus untuk bahan pembelajaran, ada baiknya memang dishare ke teman-teman. Semoga bermanfaat. (Aidil Adhar)

============================================
Suatu hari ada seorang anak laki-laki sedang memperhatikan sebuah kepompong. Dan ternyata didalmnya ada kupu-kupu  yang sedang berjuang untuk melepaskan diri dari dalam kepompong dan kelihatannya begitu sulitnya.
Si anak laki-laki tersebut merasa kasihan pada kupu-kupu tersebut dan berpikir cara untuk membantu si kupu-kupu agar bisa keluar dengan mudah.
Akhirnya si anak laki-laki tadi menemukan ide dan segera mengambil gunting dan kemudian membantu memotong kepompong agar kupu-kupu bisa segera keluar dari sana.  Alangkah senang dan leganya si anak laki-laki tersebut.

Tetapi apa yang terjadi ..???
Si kupu-kupu memang bisa keluar dari sana, tetapi kupu-kupu tersebut tidak dapat terbang, hanya dapat merayap.

Apa sebabnya..??? 
Ternyata bagi seekor kupu-kupu yang sedang berjuang dari kepompongnya tersebut, yang mana pada saat dia mengerahkan seluruh tenaganya, ada suatu cairan di dalam tubuhnya yang mengalir dangan kuat ke seluruh tubuhnya yang  membuat sayapnya bisa mengembang sehingga ia dapat terbang, tetapi karena tidak ada lagi perjuangan tersebut maka sayapnya tidak dapat mengembang sehingga jadilah ia seekor kupu-kupu yang hanya dapat merayap...

Kadangkala good intention, niat baik kita belum tentu menghasilkan sesuatu yang baik.
Sama seperti pada saat kita mengajar anak kita.
Kadangkala kita sering membantu mereka karena kasihan atau rasa sayang, tapi sebenarnya malah membuat mereka tidak mandiri. Membuat potensi dalam dirinya tidak berkembang. Memandulkan kreativitasnya, karena kita tidak tega melihat mereka mengalami kesulitan, yang sebenarnya jika mereka berhasil melewatinya, justru menjadi KUAT.

Demikian juga pada saat kita sedang harus berjuang menghadapi sesuatu, jangan mengharapkan bantuan orang lain, berjuanglah dahulu dengan mengerahkan segala kemampuanmu.
Hidup penuh dengan PERJUANGAN.
Sering kali juga kita sering menyalahkan situasi yang kita hadapi, tapi ternyata situasilah yang mendewasakan kita !



(Sumber: Aidil Akbar Madjid, 180311)


"Salam Sukses Berkelimpahan Berkah"

Leofaragusta
move, action & fight

Selasa, 16 Agustus 2011

5 Tangga Bisnis

Dengan mengetahui 5 tangga bisnis, kita bisa menyusun dan memprioritaskan langkah-langkah strategis dalam mencapai puncak bisnis.

Berikut 5 tangga bisnis:

1. STARTING (Mulai);
2. PROFITING (Mendongkrak keuntungan);
3. SYSTEMIZING(Membangun sistem);
4. MULTIPLYING (Mengembangbiakkan);
5. REAPING FREEDOM (Mencapai Kebebasan).



 1. STARTING
Saat mulai usaha fokus "bagaimana bisa survive" atau sekedar 'dapur ngepul' terlebih dahulu. Jangan berusaha mencari laba besar saat awal, tapi carilah omset. Fokus bagaimana meramaikan 'toko' anda dan mengkonversi sebanyak mungkin calon pelanggan menjadi pelanggan.

Lakukan pemasaran secara agresif dan teragenda. Jangan biarkan seharipun tanpa promosi. Lakukan hal ini terus-menerus sampai 'kursi' (kapasitas) yang anda tawarkan setidaknya mencapai 70% kapasitas. Misal, bisnis rumah makan, minimum 70% bangkunya selalu terisi.

Jika bisnis anda adalah distribusi, bukalah jalur distribusi sebanyak mungkin dan secepat mungkin. Genjot volume penjualan anda bukan profit anda. Asalkan pembayaran bagus, profit rendahpun tidak menjadi masalah.

Jangan terburu-buru membuat sistem secara detail, karena akan menghilangkan fleksibilitas dalam bisnis anda. Biasanya mantan karyawan diperusahaan besar akan fokus membuat sistem dibanding menggenjot penjualan. Ini adalah kesalahan fatal saat awal berbisnis!

“Rebut dan kuasai pasarnya terlebih dahulu, baru maksimumkan marjinnya"



2. PROFITING
Setelah volume penjualan anda cukup besar atau kapasitas yang anda tawarkan sudah maksimum tiap saat, barulah fokus menaikkan keuntungan usaha.

Ada 3 hal yang mampu menaikkan keuntungan usaha dari customer:
a. Menaikkan angka repeat order;
b. Menaikkan rata-rata pembelian tiap kunjungan;
c. Menaikkan marjin.

a. Repeat order adalah segala upaya yang dilakukan untuk membuat pelanggan semakin sering berbelanja ke
    tempat kita.
b. Menaikkan rata-rata pembelian adalah upaya agar pelanggan yang tadinya belanja sebesar Rp.100.000,- 
    tiap kunjungan, meningkat menjadi Rp 200.000,- tiap kunjungan, bahkan lebih.
c. Menaikan marjin adalah upaya menaikkan nilai dan harga jual, serta menekan biaya produksi dengan cara
    menaikan produktifitas dan menekan pengeluaran.

Di tahap profiting, promosi tetap jangan berhenti. Bedanya dengan tahap starting, promosi profiting lebih difokuskan ke pelanggan yang sudah ada.



3. SYSTEMIZING
Setelah 'dapur ngepul' dan profit melimpah, kini saatnya menyempurnakan sistem. Sebenarnya sistem tersebut mungkin sudah dirintis sedikit demi sedikit sejak mulai usaha, hanya saja di tahap systemizing, kita akan fokus pada pembenahan sistem.

Tujuan dari sistem adalah membuat bisnis 'autopilot' atau tetap berjalan tanpa anda dan siap dikembangbiakan (multiplying). Jika profit anda besar, anda tidak perlu pusing untuk membuat sistem sendiri. Cukup membayar konsultan untuk membuat sistem di perusahaan Anda. Yang terpenting lagi, inilah saatnya Anda mencari GM/ direktur yang jauh lebih pandai dan berpengalaman dari Anda.



4. MULTIPYING
Setelah sistem terbentuk perlu dilakukan uji coba dengan cara menduplikasi bisnis yg sudah ada yaitu dengan membuka cabang. Jangan terburu-buru untuk diwaralabakan jika sistem belum teruji. Jika Anda membutuhkan modal untuk usaha, gunakan pilihan untuk menjual sebagian saham cabang utama untuk membangun cabang baru. Uji sistem Anda dengan membuka cabang di beberapa tempat atau kota yang berbeda, sebelum akhirnya bisnis Anda siap diwaralabakan.
Ingat! Niatkan waralaba (franchise) untuk berbagi keuntungan, bukan mencari 'korban'.

”Apa yang Anda tanam adalah apa yang akan Anda tuai”

Selain pilihan waralaba, sistem juga bisa diterapkan untuk mengembangbiakan cabang-cabang usaha anda secara konvensional.




5. REAPING FREEDOM
Kini tiba saatnya memetik apa yang telah anda tanam, yaitu kebebasan financial. Dengan kata lain

“Bisnis anda jalan, anda jalan-jalan...”

Sekarang tiba saatnya meninggalkan 'gading' kepada orang-orang sekitar anda.




Sumber: www.YEA-Indonesia.com


"Salam Sukses Berkelimpahan Berkah"

Leofaragusta
move, action & fight


Senin, 15 Agustus 2011

Kisah Sukses Pemilik Susi Air

SEMOGA KITA TIDAK BERPANGKU TANGAN,.....
Silakan Baca semoga Menginspirasi,

Ingin pinjam uang di Bank dianggap gila, akhirnya jual cincin dan perhiasan yg dia punya buat modal bakul ikan. Keputusannya keluar dari sekolah saat masih berusia 17 tahun sangat disesalkan oleh kedua orang tuanya. Namun, berkat keuletan dan kerja kerasnya, kini Susi Pudjiastuti memiliki 50 pesawat dan pabrik pengolahan ikan yang berkualitas untuk melayani kebutuhan ekspor.
Namanya Susi Pudjiastuti, Presiden Direktur PT ASI Pudjiastuti yang bergerak di bidang perikanan dan PT ASI Pudjiastuti Aviation yang merupakan operator penerbangan Susi Air. Rambutnya ikal kemerahan, suaranya serak-serak, namun pembawaannya supel.
Bukan hanya bahasa Inggris fasih yang keluar dari mulutnya saat berbincang dengan para pilotnya yang bule. Susi – panggilan akrabnya – juga menggunakan bahasa Sunda dan sesekali bahasa Jawa kepada pembantu-pembantunya.
“Saya suka belajar bahasa apa aja. Yang penting bisa buat marah dan memerintah. Sebab, dengan itu, saya bisa bekerja,” ujarnya sambil lantas tertawa.
Saat ini, wanita kelahiran Pangandaran, 15 Januari 1965 tersebut, memiliki 50 unit pesawat berbagai jenis. Di antaranya adalah Grand Caravan 208B, Piaggio Avanti II, Pilatus Porter, serta Diamond DA 42. Kebanyakan pesawat itu dioperasikan di luar Jawa seperti di Papua dan Kalimantan.
“Ada yang disewa. Namun, ada yang dioperasikan sendiri oleh Susi Air. Biasanya dipakai di daerah-daerah perbatasan oleh pemda atau swasta,” jelas wanita yang betis kanannya ditato gambar burung phoenix dengan ekor menjuntai itu.
Susi tak mematok harga sewa pesawat secara khusus. Sebab, hal itu bergantung pelayanan yang diminta pihak penyewa. Biaya sewanya pun bermacam-macam, tapi rata-rata antara USD 400 sampai USD 500 per jam.
“Kadang ada yang mau USD 600 sampai USD 700 per jam. Perusahaan minyak mau bayar USD 1.000 karena beda-beda level servis yang dituntut. Untuk keperluan terbang, semua piranti disediakan Susi Air. Pesawat, pilot, maupun bahan bakar. Jadi, itu harga nett mereka tinggal bayar,” tegasnya.
Bakat bisnis Susi terlihat sejak masih belia. Pendirian dan kemauannya yang keras tergambar jelas saat usia Susi menginjak 17 tahun. Dia memutuskan keluar dari sekolah ketika kelas II SMA. Tak mau hidup dengan cara nebeng orang tua, dia mencoba hidup mandiri. Tapi, kenyataan memang tak semudah yang dibayangkan.
“Cuma bawa ijazah SMP, kalau ngelamar kerja jadi apa saya. Saya nggak mau yang biasa-biasa saja,” ujarnya.
Kerja keras pun dilakoni Susi saat itu. Mulai dari berjualan baju, bed cover, hingga hasil-hasil bumi seperti cengkeh. Setiap hari, Susi harus berkeliling Kota Pangandaran menggunakan sepeda motor untuk memasarkan barang dagangannya. Hingga, dia menyadari bahwa potensi Pangandaran adalah di bidang perikanan. “Mulailah saya pengen jualan ikan karena setiap hari lihat ratusan nelayan,” tuturnya.
Pada 1983, berbekal Rp 750 ribu hasil menjual perhiasan berupa gelang, kalung, serta cincin miliknya, Susi mengikuti jejak banyak wanita Pangandaran yang bekerja sebagai bakul ikan. Tiap pagi pada jam-jam tertentu, dia nimbrung bareng yang lain berkerumun di TPI (tempat pelelangan ikan). “Pada hari pertama, saya hanya dapat 1 kilogram ikan, dibeli sebuah resto kecil kenalan saya,” ungkapnya.
Tak cukup hanya di Pangandaran, Susi mulai berpikir meluaskan pasarnya hingga ke kota-kota besar seperti Jakarta. Dari sekadar menyewa, dia pun lantas membeli truk dengan sistem pendingin es batu dan membawa ikan-ikan segarnya ke Jakarta. “Tiap hari, pukul tiga sore, saya berangkat dari Pangandaran. Sampai di Jakarta tengah malam, lalu balik lagi ke Pangandaran,” ucapnya mengenang pekerjaan rutinnya yang berat pada masa lalu.
Meski sukses dalam bisnis, Susi mengaku gagal dalam hal asmara. Wanita pengagum tokoh Semar dalam dunia pewayangan itu menyatakan sudah tiga kali menikah. Tapi, biduk yang dia arungi bersama tiga suaminya tak sebiru dan seindah Pantai Pangandaran. Semua karam.
Dari suaminya yang terakhirlah, Christian von Strombeck, si Wonder Woman ini mendapat inspirasi untuk mengembangkan bisnis penerbangan. “Dia seorang aviation engineer,” lanjutnya.
Christian merupakan seorang ekspatriat yang pernah bekerja di IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara yang sekarang bernama PT DI, Red). Awal perkenalannya dengan lelaki asal Prancis itu terjadi saat Christian sering bertandang ke Restoran Hilmans milik Susi di Pantai Pangandaran. Berawal dari perkenalan singkat, Christian akhirnya melamar Susi. “Restoran saya memang ramai. Sehari bisa 70-100 tamu,” katanya.
Dengan Christian, Susi mulai berangan-angan memiliki sebuah pesawat dengan tujuan utama mengangkut hasil perikanan ke Jakarta. Satu-satunya jalan, lanjut Susi, adalah dengan membangun landasan di desa-desa nelayan. “Jadi, tangkap ikan hari ini, sorenya sudah bisa dibawa ke Jakarta. Kan cuma sejam,” tegas ibu tiga anak dan satu cucu tersebut.
Berbeda jika harus memakai jalur darat yang bisa memakan waktu hingga sembilan jam. Sesampai di Jakarta, banyak ikan yang mati. Padahal, jika mati, harga jualnya bisa anjlok separuh.
“Kami mulai masukin business plan ke perbankan pada 2000, tapi nggak laku. Diketawain sama orang bank dan dianggap gila. ‘Mau beli pesawat USD 2 juta, bagaimana ikan sama udang bisa bayar,’ katanya,” ujar Susi.
Barulah pada 2004, Bank Mandiri percaya dan memberi pinjaman sebesar USD 4,7 juta (sekitar Rp 47 miliar) untuk membangun landasan, serta membeli dua pesawat Cessna Grand Caravan. Namun, baru sebulan dipakai, terjadi bencana tsunami di Aceh. “Tanggal 27 kami berangkatkan satu pesawat untuk bantu. Itu jadi pesawat pertama yang mendarat di Meulaboh. Tanggal 28 kami masuk satu lagi. Kami bawa beras, mi instan, air dan tenda-tenda,” ungkapnya.
Awalnya, Susi berniat membantu distribusi bahan pokok secara gratis selama dua minggu saja. Tapi, ketika hendak balik, banyak lembaga non-pemerintah yang memintanya tetap berpartisipasi dalam recovery di Aceh. “Mereka mau bayar sewa pesawat kami. Satu setengah tahun kami kerja di sana. Dari situ, Susi Air bisa beli satu pesawat lagi,” jelasnya.
Perkembangan bisnis sewa pesawat miliknya pun terus melangit. Utang dari Bank Mandiri sekitar Rp 47 miliar sekarang tinggal 20 persennya. “Setahun lagi selesai. Tinggal tiga kali cicilan lagi. Dari BRI, sebagian baru mulai cicil. Kalau ditotal, semua (pinjaman dari perbankan) lebih dari Rp 2 triliun. Return of investment (balik modal) kalau di penerbangan bisa 10-15 tahun karena mahal,” katanya.
Susi tak hanya mengepakkan sayap di bisnis pesawat dan menebar jaring di laut. Sekarang, dia pun merambah bisnis perkebunan. Meski begitu, dia mengakui ada banyak rintangan yang harus dilalui. “Perikanan kita sempat hampir rugi karena tsunami di Pagandaran pada 2005. Kami sempat dua tahun nggak ada kerja perikanan,” tuturnya.
Untuk penerbangan rute Jawa seperti Jakarta-Pangandaran, Bandung-Pangandaran dan Jakarta-Cilacap, Susi menyatakan masih merugi. Sebab, terkadang hanya ada 3-4 penumpang. Dengan harga tiket rata-rata Rp 500 ribu, pendapatan itu tidak cukup untuk membeli bahan bakar. “Sebulan rute Jawa bisa rugi Rp 300 juta sampai Rp 400 juta. Tapi, kan tertutupi dari yang luar Jawa. Lagian, itu juga berguna untuk mengangkut perikanan kami,” ujarnya.
Susi memang harus mengutamakan para pembeli ikannya, karena mereka sangat sensitif terhadap kesegaran ikan. Sekali angkut dalam satu pesawat, dia bisa memasukkan 1,1 ton ikan atau lobster segar. Pembelinya dari Hongkong dan Jepang setiap hari menunggu di Jakarta. “Bisnis ikan serta lobster tetap jalan dan bisnis penerbangan akan terus kami kembangkan. Tahun depan kami harap sudah bisa memiliki 60 pesawat,” katanya penuh optimisme.
Semoga Kisah Ibu Susi ini bisa memacu semangat Generasi Muda Negeri ini untuk berani berusaha dan mau bekerja keras! Tidak hanya berharap bisa bekerja sebagai pegawai saja, tetapi justru bisa menciptakan lapangan kerja baru di tengah sempitnya lapangan kerja saat ini.


Sumber: Faat Syafaat,
Indonesia Retail Bussiness
18 Juli 2011 jam 23:00 WIB


Salam Sukses Berkelimpahan Berkah :) :)
Leofaragusta